WHAT'S NEW?
Loading...

Ada kalanya dosa itu justru bisa membuat seseorang masuk surga. Benarkah? Ya, ada kalanya. Namun, hal ini harus dipahami dengan benar. Bukan sebagai justifikasi, menjadi alasan untuk terus melakukan kesalahan. Syaikh yusuf al-Qaradhawi mengitup dari perkataan salafus shalih bahwa... “Ada kalanya seorang hamba berbuat dosa, yang justru membuatnya masuk surga. Ada kalanya seorang hamba melakukan ketaatan, yang justru membuatnya masuk neraka.” Lho, kok bisa?

Lalu kemudian orang-orang bertanya, “bagaimana itu bisa terjadi?” Salafush shalih itu menjawab, “seorang hamba yang berbuat dosa, dan dosanya itu selalu membayang di depan matanya. Saat berdiri, duduk, berbaring dan berjalan dia selalu ingat dosanya itu sehingga menggugah kegelisahan, gundah, tobat, istighfar dan penyesalan. Lalu hal itu menjadi sebab bagi keselamatannya. Ada kalanya, seorang melakukan kebaikan, dan kebaikan itu selalu membayang di depan matanya. Saat ia berdiri, duduk, berbaring dan berjalan ia selalu ingat kebaikan-kebaikannya itu. Teruuus...menerus. Lalu membuatnya ujub dan takabbur, yang menjadi akibat bagi kesengsaraannya.

Sejenak mari kita renungkan secara positif dan inspiratif akan hal ini. Jangan buru-buru menerima dan menolak pernyataan ini dan jangan meggunakan hal ini untuk mengulang kesalahan. Begitulah! Boleh jadi, dosa lebih bermakna bagi seorang hamba jika disusuli dengan tobat dan berbagai macam ketaatan.

Mulai dari yang kita bisa, YAKINI! Berikan yang kita punya, IKHLASKAN! Lakukan segera, JANGAN DITUNDA-TUNDA! Syukuri apa yang ada, MANFAATKAN!

Mari memandang secara dalam-dalam negeri tercinta ini. Karena kelebihannya yang demikian berlimpah maka oferdosis –lah jadinya. Untuk khusus saat sekarang, negeri ini ibarat rumah reyot, yang semakin lama makin rapuh. Gentengnya terus berjatuhan, namun juga sedikit yang sadar untuk melakukan penghijraan nyata. “Masa bodoh” nggak mau segera memulai. Menuntut sana-sini. Hampir tidak ada yang segera bertindak. Ini layaknya kisah seorang tamu dan tuan rumah.
JRENGGG!*saya kutip dari buku SPS



...Dihari yang diguyur hujan lebat, diiringi petir yang menggelegar, prakbrakdarrr… kira-kira seperti itulah bunyinya… -_- lantas, listrik padam. Angin menderu hebat bikin merinding, sang tamu bertanya kepada tuan rumah tentang gentengnya yang bocor dengan debit air yang sangat deras.

“Mengapa engkau tidak memperbaiki genteng rumahmu yang bocor seperti ini? Kita lama-lama bisa kebanjiran, dan air ini akan semakin deras dan banyak.”

Pemilik rumah dengan ketus menjawab “Bagaimana aku memperbaiki hujannya deras seperti ini?” 

“Mengapa tidak engkau perbaiki di waktu yang tak ada hujan?” tanya tamu tersebut. “Soalnya, kalau lagi tidak ada hujan, rumah ini tidak bocor,” jawab tuan rumah dengan santainya.

         
 

Begitulah model berpikir kita, sebagian! Ketika kebocoran datang, menunggu saat yang tepat untuk memperbaikinya. Ketika kesempatan itu datang eh... malah terlena dan tak melakukan apa-apa. Mirip bukan, ketika bersama si do’i, kesempatan itu tidak dipakai untuk kembali mendekat pada misi utama penghambaan. Pas perutnya persis gemuk, baru menyesali hal yang diperbuat. Survei saya di sana, terlalu banyak kata ‘seandainya’ di taruh pada bokong pemiliknya. Apa belum juga cukup berpuluh-puluh buku dihadirkan tentang larangan ‘p-c-r-n’. Tapi tetap saja mau penyesalan, inilah yang saya sebut penyesalan merangkap, tahu sebab akibatnya tapi tetap saja melakukannya. Ingatlah, senikmat apapun hidup di tengah kegelapan cahaya-Nya, tetaplah semua adalah kenikmatan semu, kapan pun, ia tidak akan mencapai kenikmatan yang arahnya kepada ketenangan jiwa dan kesejukan hati. Itu pasti! Banyak orang yang hidupnya senang tapi tidak bahagia, bukan?

Ah, Banyak juga yang kelihatannya saja bergembira tapi sumpah ma’ hatinya tak begitu damai. Ketika kasus ini terjadi, hal inilah yang mengakibatkan adanya orang yang kelihatan sangat terburu-buru ketika hendak pergi ke suatu tempat, yang demikian di sana tak ada juga keperluan yang mendesak, parahnya, saat sampai di tujuannya, eh malah boro-boro lagi bergegas untuk pulang. Seakan ada masalah tapi tak tahu penyebabnya, dirinya seolah dikejaaar oleh waktunya sendiri. Demikian luasnya 24 jam, wakwaww... malah kelihatan satu jam saja baginya. Demi Allah percayalah! Karena ketenangan itu tidak akan dimiliki oleh seseorang melainkan dengan izin-Nya, bukan selain-Nya! Juga ini sedikit tentang pacaran, saya punya amunisi untuk mematoknya lebih sabaran.^^ yang masih punya pacar sampai saat sekarang saran saya putuskanlah cepat sana! (eh, enak aja) a? (sudah terlanjur cintaaa :O) i? (saya sudah yakin dia yang bakal jadi pendamping hidup saya, eeea’ gubrak -_-) u? (nanti dikatain PHP lagi?) e? (Ah, nanti saya pikir-pikir lagi dulu:/) o? a,i,u,e,o? hey, yang masih pacaran? Dirimu itu muslim bukan, :O muslim itu tak boleh pacaran, dilarang, keras lagi larangannya. Singkat saja! Kalo dah siap, nikah sana! Kalo belum siap, single lebih mulia dari pada pacaran. Ibarat lagi puasa, ya iya laparnya pasti terasa, tapi pas buka “allahu akbar-allaaahu akbar” nah lega juga pada saatnya, ketika perut sudah di rifres, tantangannya lebih nikmat dan insya Allah berkah ujungnya. Sama halnya pacaran, kita juga perlu sedikit belajar sabar, hingga waktu ‘allahu akbar-allahuakbar’nya itu tiba, jika memotongnya dengan garis offside dijamin nggak berkah, kalo pakai cara yang benar pasti berkah! Maka bersabarlah wahaiii para single, sampai waktu berbukamu tiba. Asyiknya! Jika pacarmu itu adalah jodohmu, tentu bukan sureprize namanya, sebaliknya demikian. :)

Bareng-bareng kembali –lah pada-Nya. Kepada cinta-Nya SANGMAHACINTA. Belajar –lah untuk kembali khusyu’ dalam sholatmu, rasakanlah sesekali manisnya muthmainnah, dalam setiap gerakan. Mencari titik damainya hati bukan kepada Allah tidak akan bisa diraih, ia hanya akan mendatangkan dramatis tipuan, kegelisahan dan kegoncangan jiwa. Sebaliknya mencari ketenangan pada Allah akan mengembalikan hati orang yang ‘beriman’ kepada dirinya, sehingga memberikan kepadanya perasaan seakan-akan dia berada dihadapan Allah, dia mendengar dengan pendengaran Allah, dan melihat dengan penglihatan Allah, maka ketenangan masuk kedalam jiwa raganya.