Mulai dari yang kita bisa, YAKINI! Berikan
yang kita punya, IKHLASKAN! Lakukan
segera, JANGAN DITUNDA-TUNDA! Syukuri apa yang ada, MANFAATKAN!
Mari memandang secara dalam-dalam negeri
tercinta ini. Karena
kelebihannya yang demikian berlimpah maka oferdosis –lah jadinya. Untuk khusus saat sekarang, negeri ini
ibarat rumah reyot, yang semakin lama makin rapuh. Gentengnya terus berjatuhan,
namun juga
sedikit yang sadar
untuk melakukan penghijraan
nyata. “Masa bodoh” nggak mau segera memulai. Menuntut sana-sini. Hampir tidak ada yang segera bertindak. Ini layaknya kisah seorang tamu dan tuan rumah.
JRENGGG!*saya
kutip dari buku SPS
...Dihari yang diguyur hujan lebat,
diiringi petir yang menggelegar, prakbrakdarrr…
kira-kira seperti itulah bunyinya… -_- lantas, listrik padam. Angin menderu
hebat bikin merinding, sang tamu bertanya kepada tuan rumah tentang gentengnya
yang bocor dengan debit air yang sangat deras.
“Mengapa engkau tidak memperbaiki genteng rumahmu yang bocor
seperti ini? Kita lama-lama bisa kebanjiran, dan air ini akan semakin deras dan
banyak.”
Pemilik rumah dengan ketus menjawab “Bagaimana aku memperbaiki hujannya deras
seperti ini?”
“Mengapa tidak engkau perbaiki di waktu yang tak ada hujan?” tanya tamu tersebut. “Soalnya, kalau lagi tidak ada hujan, rumah ini tidak
bocor,”
jawab tuan rumah dengan santainya.

Begitulah model
berpikir kita, sebagian! Ketika kebocoran datang, menunggu saat yang tepat
untuk memperbaikinya. Ketika kesempatan itu datang eh... malah terlena dan tak melakukan apa-apa. Mirip bukan, ketika bersama si
do’i, kesempatan itu tidak dipakai untuk kembali mendekat pada misi utama penghambaan.
Pas perutnya persis gemuk, baru menyesali hal yang diperbuat. Survei saya di
sana, terlalu banyak kata ‘seandainya’ di taruh pada bokong pemiliknya. Apa
belum juga cukup berpuluh-puluh buku dihadirkan tentang larangan ‘p-c-r-n’.
Tapi tetap saja mau penyesalan, inilah yang saya sebut penyesalan merangkap,
tahu sebab akibatnya tapi tetap saja melakukannya. Ingatlah, senikmat apapun hidup di tengah kegelapan
cahaya-Nya, tetaplah semua adalah kenikmatan semu, kapan pun, ia
tidak akan mencapai kenikmatan yang arahnya
kepada ketenangan jiwa dan kesejukan hati. Itu pasti! Banyak
orang yang hidupnya senang tapi tidak bahagia, bukan?
Ah, Banyak juga yang kelihatannya saja bergembira tapi sumpah ma’ hatinya
tak begitu damai. Ketika
kasus ini terjadi, hal inilah yang mengakibatkan adanya orang yang kelihatan
sangat terburu-buru ketika hendak pergi ke suatu tempat, yang demikian di sana
tak ada juga keperluan yang mendesak, parahnya, saat sampai di tujuannya, eh
malah boro-boro lagi bergegas untuk pulang. Seakan ada masalah tapi tak tahu
penyebabnya, dirinya seolah dikejaaar oleh waktunya sendiri. Demikian luasnya
24 jam, wakwaww... malah kelihatan satu jam saja baginya. Demi Allah
percayalah! Karena ketenangan
itu tidak akan dimiliki oleh seseorang melainkan dengan izin-Nya, bukan
selain-Nya! Juga ini sedikit tentang
pacaran, saya punya amunisi untuk mematoknya lebih sabaran.^^ yang masih punya pacar sampai saat sekarang saran saya putuskanlah cepat
sana! (eh, enak aja) a? (sudah terlanjur cintaaa :O) i? (saya sudah yakin dia yang
bakal jadi pendamping hidup saya, eeea’ gubrak -_-) u? (nanti dikatain PHP
lagi?) e? (Ah, nanti saya pikir-pikir lagi dulu:/) o? a,i,u,e,o? hey, yang
masih pacaran? Dirimu itu muslim bukan, :O muslim itu tak boleh pacaran,
dilarang, keras lagi larangannya. Singkat saja! Kalo dah siap, nikah sana! Kalo
belum siap, single lebih mulia dari pada pacaran. Ibarat lagi puasa, ya iya
laparnya pasti terasa, tapi pas buka “allahu
akbar-allaaahu akbar” nah lega juga pada saatnya, ketika perut sudah di
rifres, tantangannya lebih nikmat dan insya Allah berkah ujungnya. Sama halnya
pacaran, kita juga perlu sedikit belajar sabar, hingga waktu ‘allahu
akbar-allahuakbar’nya itu tiba, jika memotongnya dengan garis offside dijamin
nggak berkah, kalo pakai cara yang benar pasti berkah! Maka bersabarlah wahaiii
para single, sampai waktu berbukamu tiba. Asyiknya! Jika pacarmu itu adalah
jodohmu, tentu bukan sureprize namanya, sebaliknya demikian. :)
Bareng-bareng kembali –lah
pada-Nya. Kepada cinta-Nya SANGMAHACINTA. Belajar –lah untuk kembali khusyu’
dalam sholatmu, rasakanlah sesekali manisnya muthmainnah, dalam setiap gerakan.
Mencari titik damainya hati bukan kepada Allah tidak akan bisa
diraih, ia hanya akan mendatangkan dramatis tipuan, kegelisahan dan kegoncangan
jiwa. Sebaliknya mencari ketenangan pada Allah akan mengembalikan hati orang
yang ‘beriman’ kepada dirinya, sehingga memberikan kepadanya perasaan
seakan-akan dia berada dihadapan Allah, dia mendengar dengan pendengaran Allah,
dan melihat dengan penglihatan Allah, maka ketenangan masuk kedalam jiwa
raganya.